May 15th, 2013

rainbow, itb

Sepenggal percakapan [Monolog] #AnotherDiary

"Terkadang perempuan itu egois, Bang.
Ketika seseorang (lelaki) memperlakukan perempuan itu dengan baik, maka perempuan itu akan berharap bahwa perilaku baik itu hanya diperuntukkan baginya.

Terkadang perempuan itu lupa, Bang.
Ketika seseorang (lelaki) berlaku baik, perilaku baik itu bukanlah milik perempuan itu saja, tapi milik perempuan-perempuan lainnya juga.
Bila perempuan itu sedang 'waras', mereka bisa berfikir jernih dan menyadari hal itu.
Tapi ada saatnya, mereka lupa, kemudian menjadi egois ataupun bias.

Mungkin bagi Abang, perilaku baik itu adalah suatu kewajiban dan sekedar sopan santun bagi perempuan itu.  Akan tetapi apakah Abang tahu apa yang ada dibenak perempuan itu?  Sebagian besar perempuan pada awalnya mengira bahwa perilaku baik Abang itu memiliki maksud lain.  Kenapa? Karena perempuan meletakkan perilaku baik Abang itu atas dasar perasaan, bukan logika kehidupan sosial lelaki.

Tidak semua perempuan seperti aku, Bang, yang menelaah kembali segala perlakuan Abang terhadapku agar aku tidak merasa bias.

Pada awalnya, aku sama dengan perempuan lain, membuat praduga yang absurd.  Namun aku merunut kembali, dan aku mendapat kesimpulan bahwa Abang memanglah 'abang'."

Abang hanya terdiam, sesekali menghela nafas. Kami pun berjalan dalam diam.

-Suatu malam, percakapan sepanjang perjalanan Lingkar Luar Kampus Gajah-
rainbow, itb

15 Mei 2013: Bingkisan Untuk Sur

Malam.

Ku telepon, tak diangkat.  Kukirim pesan singkat, tak dibalas. Dilema antara ingin pergi memberikan bingkisan ini untuknya atau tidak. Beberapa teman membujukku, akhirnya aku melangkahkan kaki ini menuju kosannya, tengah malam, tepat pergantian hari memasuki hari lahirnya, 15 Mei 2013.

Kutunggu dia di depan kosannya, hingga satpam mulai curiga saking lamanya aku menunggu. Kuceritakan maksudku menunggu, satpam malah menggoda dan mendukungku. Akhirnya aku mengetuk pintu kosannya.  Wajah ibu kosan yang asing dan tampaknya masih baru, keluar dari kosan. Kutanyakan, 'Apa ada Sur, bu?' Ibu kosan, 'Oh, sudah pindah, Mas'. Aku heran, Sur bukan sosok yang suka berpindah. Tapi ya manatahu, kuanggap saja itu hanya taktik Sur menolak menemuiku, seperti yang biasa ia lakukan selama ini.

Kuputuskan ke kantornya saja.  Jam 8 pagi aku menuju kantor Sur yang samar-samar kuingat namanya. Ternyata benar, itu kantornya.  Aku tambah yakin karena bertemu dengan teman satu kampusnya dulu, dan teman itu yang menunjukkan meja Sur.  'Ah, dy sedang tidak ada,' fikirku.  Sedikit sedih tak bisa melihat wajahnya atau mengucapkan sepatah dua patah kata 'Selamat ulang tahun, Sur,' padanya.  Kuletakkan bingkisan yang sudah kupersiapkan dengan segenap jiwa itu di atas meja Sur.

Bingkisan yang kuberi berisikan dua hal: rekaman lagu yang kugubah sendiri, dan
sebuah buku yang kutulis tangan. Kedua hal itu sangat mendasar dalam kehidupanku. Musik (dalam rekaman lagu), kudapat dari ayahku, sebagai 'input' bagi diri dan berekspresi tanpa tekanan, penuh kebebasan.  Rekaman lagu yang kubuat itu khusus untuknya.  'Album untukku saja belum kubuat, tapi dy bahkan sudah kubuatkan album, sungguh gila aku ini,' umpatku dalam hati.


Buku, merupakan sesuatu yang kudapat dari ibu, suatu bentuk menuangkan segala sesuatu dalam pikiran kita, atau menginterpretasikan makna yang terkandung di dalamnya.  Buku yang kutulis tangan itu berisi kehidupanku, masa kecilku yang kelam, kebodohan-kebodohanku, kisah hariku.  Kutulis buku itu pada setiap waktu kubisa mengisinya, dari duduk santai hingga jongkok di atas meja.  Sengaja kusisakan beberapa lembar kosong dari buku berisi tulisanku, kutambahkan beberapa kalimat penutup, 'Ini ada lembaran kosong, maukah kau mengisinya bersamaku?'

Aih, klise memang.  Namun kegilaan cintaku kepadanya yang menuliskan kalimat klise itu tanpa tahu malu.  Perasaan cinta. Aku sudah bermain perasaan.

'Pelajaran yang kalian dapat dari ceritaku, kalau lelaki, hati-hati ketika bermain perasaan.  Pastikan dulu wanita mana yang kau beri perasaan atau yang sekedar dipermainkan.  Boleh 1000 wanita kau jadikan selingan, namun hanya boleh satu wanita yang kau beri perasaan, fokus, dan kejarlah dy sampai kau dapat! Selesaikan misimu!'


-Kisah Tiben, kudengar kisah ini sembari menyelesaikan tugas akhir-


Diperankan oleh: Pengamen Tiben as Aku
Disaksikan oleh: Choilul Jiibran, Surdew dan Om Payung