Mirza, Kopi, dan Aku

Ngeh.

Hari yang cukup 'menguras' energi. Aku harus bisa menyesuaikan energi agar tak kentara dominan. Sulit. Sangat. (˘̩̩^˘̩̩)‎​

Pagi kusiapkan diri untuk bertemu Widi, sahabat yang meminta bantuan dalam proses tugas akhirnya. Kujemput pacarnya yang juga teman dekatku (efek rumah yang dekat), Manda, lalu menepilah kami di Mekdi. Manda hanya bisa sebentar, harus ikut acara arisan keluarga. Jadi tinggal aku dan Widi yang mendiskusikan draftnya yang masya Allah, aku pusing dengan kalimat-kalimatnya (maafkan aku memberimu revisi sedemikian banyaknya akaaanngg (⌣́_⌣̀)). Bodohnya, Widi memesan dua minuman untuknya sendiri, yaitu caffé latté dan soda, tapi taunya dia tidak bisa minum kopi -_-. Toh aku suka kopi, jadi aku yang meminumnya *jitak Widi*

Setelah makan siang, aku menerima ввм dari Mirza. Dia melaporkan dua lokasi yang memungkinkan untuk perencanaan membuka café. Itu sudah kebiasaannya. Dari dugaanku, mungkin dari sekian banyak temannya, hanya aku yang mau buka café (melihat antusiasmenya saat memberikan info). Aku balas, dan kutanyakan sedang di mana karena aku memang mau membahas perencanaan café itu sejak pekan kemarin. Janjianlah kami di warung langganan, Coffee Life. Dia pun sedang di tempat wanitanya, Dini, yang tak jauh dari warung, jadi hanya perlu menunggu kabar aku akan sampai pukul berapa di sana.

Aku pun bersama Widi menunda diskusi. Kami mengambil helm ke rumahku, Widi mengganti baju ke rumahnya, dan meluncurlah kami ke warung. Titiw (sahabat Mynorphyla-ku) pun menuju warung, ingin curhat padaku. Baiklah, hari ini full agenda sepertinya.

Sesampainya di warung, aku menemukan Titiw (jelas saja, dia duduk di depan). Kemudian aku menuju bar warung dimana Mirza sedang berkutat dengan benda-benda kopi bersama Sony. Aku minta dibuatkan kopi (gratisan as usual, hihi). Seperti biasa (lagi), tanpa lama diambilnya biji kopi (roasted) El Salvador, grind it dan menyajikan dengan metode favoritnya, V60 (yang menjadi salah satu cara penyajian favoritku karena disaring dengan kertas saring, kopinya menjadi sangat manis). Dibuatnya dua cangkir, untuknya dan untukku (enaknyaaaa ya Allaaaaaaaahhh -mau lagi!-).

Widi akhirnya berbincang dengan Dini, aku berdiskusi random dengan Mirza (karena kelemahan otakku yang tak sebanding dengannya, otakku ngebul), dan memohon Titiw untuk bersabar menantiku. Obrolan aku dan Mirza mencapai kesimpulan awal, aku sebaiknya diskusi dengan Alif (secara Mirza lebih ke urusan dapur warung, bukan business plan). Ketika Mirza beralih berbincang dengan Sony, aku pun akhirnya berbincang dengan Titiw.

Curhatan Titiw mengenai hubungan dengan pacarnya yang sekarang membuat aku kembali terlihat bagaikan Master of Relationship (kubuat di postingan lain saja karena nanti postingan ini akan terlihat aneh). Saat Mirza selesai dengan Sony, dia pun beranjak menuju bar sembari menepuk pundakku dan bertanya, "Jadinya ntar Alif dateng?" | "Hm? Yep," sahutku. Jujur, aku langsung merinding pasca ditepuk. Bukan karena tepukannya, tapi 'aura pembunuh' dari Dini membuatku seketika tak nyaman. Physical interaction antara aku dan Mirza bukanlah hal asing untukku, namun aku sangat memilih untuk tidak berinteraksi lebih dari sekedar pembicaraan.

Aku meletakkan jarak sedemikian rupa, aku harap Mirza juga 'sadar diri' dan sadar akan posisiku. Walaupun ada Widi dan Titiw, tak mengubah kenyataan bahwa Dini terusik dengan interaksi sekecil apapun antara aku dan Mirza. Hff. Padahal aku sudah 'mengecek' apakah aku masih memiliki rasa tertarik ke pria ini atau tidak, hasil: NEGATIF = no crush anymore. Pertanda bagus (mungkin, dunno though), dan aku tau Mirza pun (berusaha) melihatku hanya sekedar teman asyik saja, hanya (usahanya) tak terlihat nyata =,= Kusebut usaha, karena aku bisa melihat bagaimana Mirza memang berusaha mempertahankan hubungannya dengan Dini. Well, he's a nice person anyway.

Lelah. Pengaturan energi itu saaaaangat tidak mudah Щ(ºДºщ) ditambah perjalanan naik motor sekian jauh, makin terasa hancur tubuh ini. Dini yang 'melempar' sejuta 'kutukan dalam hati' terhadapku sungguh tidak menyenangkan dirasa. My mother was right, her jealousy gave a bad energy to me. I got extremely tired facing it.

Seandainya aku tak mengenal Mirza..

Seandainya aku tak suka kopi..

Seandainya aku tak ada.. #naonmeniteunyambung ┌(_o_)┐

Posted via LiveJournal App for Blackberry

Tumben Gak Nyampah

Gw merasa aneh kalo gw gak nyampah.
Kayak 'seharusnya gw tuh bawel'. Atau mungkin biasanya gw bawel, atau gw emang bawel. Halaah pusing.

Agak terpikir aja, knapa gada yg pengen gw critain, padahal bisa aja gw broad up satu crita *ntah apapun scara gw brisik*,, gw anteng banget hari ini sama bebe *pusing juga sih krn masi ngurus2 gitu*

Yowes. Apapun. Gw heran, knp hr ini gw gak nyampah???? (˘_˘")

Posted via LiveJournal App for Blackberry

Kiena dan 'Keanehan'ku

Tanggal 8 September kemarin adalah hari pernikahan salah satu wanita Blossom (nama angkatanku di Biologi). Awalnya kukira tak akan banyak yang hadir, melihat banyak yang meminta maaf via grup WA, "Nayaa maaf yaa gabisa hadiir, ada blablabla". Mood agak kurang bersemangat, tapi aku tetap memutuskan untuk hadir, demi menghargai Naya (yang aku tak terlalu dekat).

Sedari pagi (namun telat menghadiri akad) aku dan beberapa teman sudah di lokasi. Ba'da Dzuhur barulah ramai rekan-rekan Blossom. Yang menyenangkan adalah Kiki membawa pula si cantik Blossom Jr. alias Kiena! Hwaaa ada bayi! Ponakan pertama memang selalu fenomenal *dan bikin menantikan ponakan-ponakan selanjutnya! Hahaha*.

Setelah ritual angkatan, yaitu penyerahan plakat dari rekan yang menikah terakhir (Fika) kepada rekan yang sedang menikah (Naya), kami foto angkatan, lalu duduk-duduk bersama di samping tempat resepsi. Kiki pun duduk di hadapanku memangku Kiena. Mulailah para wanita Blossom lainnya menghampiri Kiena dan menggemasinya. Aku menunggu hingga tak terlalu ramai, lalu duduk di depan Kiena sambil menyerahkan telunjuk kananku ke tangan kanannya.

Namanya juga bayi, paling suka menggenggam, hihi. Di tangan kirinya ada Niar yang juga digenggam telunjuknya. Aku, Niar dan Tiara mengelilingi Kiena yang dipangku sang ibu, dan beberapa wanita lain memandangi kami.

Entah mengapa, hubunganku dengan bayi (atau anak kecil) selalu 'intim'. Setiap bayi yang melihat akan langsung menatapku lekat-lekat, sama halnya dengan yang (ternyata) dilakukan oleh Kiena. Karena sudah terbiasa 'diperlakukan' demikian, maka aku hanya balas memandanginya sambil tersenyum. Tiara yang duduk di sebelah kiriku berkomentar, 'Si Wawa dipandanginnya gitu banget, haha,' dan diamini oleh Niar. Tak lama kemudian Tewe pun mengomentari hal yang sama. Aku cukup geli mendengar komentar-komentar mereka, lucu saja. Mungkin dikarenakan mereka jarang melihatku berinteraksi dengan bayi/ anak kecil :)

Tak ingin 'mendominasi' perhatian Kiena, maka kulepaskan tangan bayi cantik itu. Untung ada sang ibu, karena pengalaman-pengalamanku sebelumnya, bayi seringkali menangis jika kutinggalkan =,= Rasanya aku bukanlah sosok yang begitu penyayang, sehingga aku merasa cukup aneh melihat para bayi 'bersikap' demikian. Ckckck.

Posted via LiveJournal App for Blackberry

rainbow, itb

Dirgahayu Indonesia ke-68!

Setiap media blogging yang kupunya sepertinya aku share video ini deh, hahaha.. Mumpung punya media dan bisa di-share :3


Ini gitaris kesayanganku, namanya Adi Prasinda Putra,, tapi seiring dengan 'ketampanan'nya saat bermain alat musik (pria multitalented), berubahlah namanya menjadi Marcello, akrab dipanggil Marsel, dan aku sendiri menyebutnya Acel *lalu semua yang kenal jadi ikutan manggil Acel, wkwkk*

Perdana banget ni aku bikin aransemen lagu dan aku sendiri yang menyanyikan kemudian unggah ke Youtube.  Sebelum-sebelumnya aransemenku hanya kujadikan sebuah album (Bengawan Solo in Languages dan Sing-A-Long), atau kutransfer ke anak-anak klub musik dalam berbagai event (lomba, job - hampir semua kuabadikan di channel-ku :D).

Cover kali ini adalah sebuah lagu nasional yang termasuk aku gemari, yaitu Tanah Airku ciptaan Ibu Soed. Berhubung aku juga suka nyanyi akustikan, maka aku pun termasuk suka dengan aransemen ini, hahaha.. Setelah kurekam, selalu saja ada yang membuatku ingin memperbaiki aransemen yang pernah kubuat, sama halnya dengan lagu ini. Mungkin di lain kali aransemen lagu ini akan kubuat dalam versi vocal group akustik *semoga aku dan dua temanku bisa mewujudkan harapanku ini, hehe*.

Semoga juga cover yang memang kuniatkan sebagai hadiahku untuk dirgahayu Indonesia ini bisa sedikit menghibur sebagian rakyatnya yang menyaksikan, hehehehe *yaaa siapa tau banyak yang nonton :p*
rainbow, itb

Kupikir

Kupikir aku terlalu muak dengan apa yang kujalani. Terlalu melulu, sampai-sampai kemuakan yang kurasa memuncak sudah. Bukan jenuh, melulu itu pun bukan suatu yang monoton. Pertubian dinamika yang kualami hendaknya membuatku tidak bosan, kupikir aku (hanya) lelah.

Hidupku jauh dari kata mulus, jauh dari kemudahan, jauh dari apa yang disebut 'kestabilan'. Aku bukanlah perempuan yang menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Gejolak romantika hidup yang kutempuh belum cukup mematangkan aku sepertinya. Ketika aku berada pada posisi datar, emosionalku malah meronta meminta kepahitan. Masokiskah? Mungkin. Bisa saja begitu dikarenakan telah terbiasa dengan kondisi roda di bawah.

Seringkali aku terheran dengan ketenangan yang bisa kuperoleh saat dibawah tekanan. Tidak lazim, karena ketenangan itu cenderung membuatku terperosok karena muncul di saat yang tidak tepat. Tekanan yang kuperoleh selayaknya memaksaku menjadi lebih hipertensi, namun saat tekanan itu benar-benar telah berada di ujung hidung barulah aku kelabakan dibuatnya. Emosiku sungguh tidak stabil dan tidak karuan, seperti hidupku.

Aku tidak bilang bahwa hidupku lah yang paling hancur. Tidak. Aku cukup sadar bahwa aku cukup beruntung. Dibalik ketidakstabilan dan ketidakkaruannya hidupku, tentu ada yang lebih 'tidak' dibandingkan aku. Namun aku bisa mengatakan bahwa kehidupanku merupakan suatu anomali yang tidak banyak dialami orang lain, bahkan aku meragukan jika ada suatu kisah kehidupan yang bahkan mirip dengan kehidupanku.

Kupikir keanomalian yang kujalani membuatku pun sebagai pribadi yang anomali. Segelintir orang yang pernah kuceritakan ataupun mengetahui kehidupanku tak urung membelalakkan mata, menganga, ataupun menggeleng-gelengkan kepala saking tidak menyangka aku masih bisa melewati seluruhnya dan menjadi aku yang sekarang. Paling-paling aku tertawa melihat segala ekspresi tersebut. Aku terbiasa dengan ekspresi-ekspresi itu. Kupikir jika aku menjadi orang lain pun akan menunjukkan wajah yang sama dengan mereka.

Kupikir, semua itu sudah menjadi rancangan Tuhan.
Kuyakin, rancangan-Nya tak pernah ada cacat.
rainbow, itb

Nyeh, Artikel..

Akhirnya gw submit juga tu artikel pret syarat daftar sidang. Seriusan ih nyusahiinn huhuhuhu,, mana gw kan lemot tu de max. Ketika orang2 bisa ngerjain hanya dlm waktu 2 hari, gw butuh 2 minggu! T_T Semoga aja diterima ya, walaupun jelas sih masih perlu koreksian, tapi itu kerjaan editor kan ya,  ehheheheheheh :3

Baiklah, sedikit lega lah bisa ngelarin, cuma krn masi nunggu bukti diterima submit, jadi masi ketar ketir juga. Hari ini hari trakir daftar sidang pulak di departemen, jadi kudu dapet banget itu bukti submit, kudu minta yang pake meterai itu loh.. Haaaa ternyata pakeeee kirain enggaaakk --" *sotoy banget deh guwe*

Pokonya hanya bisa berdoa, dan beristirahat. Karena sudah sangat lelah. Hix.
  • Current Mood
    tired tired
rainbow, itb

Mungkin

Mungkin aku harus menatap matanya, agar bisa menemukan diriku | Menemukan diriku? Yakinkah aku ada di dalam tatapannya? Aku kah itu?

Mungkin aku harus memandang wajahnya, agar bisa mendapatkan ketenangan dalam hatiku | Cukupkah hanya dengan begitu? Apakah hanya dengan memandang aku bisa tenang?

Mungkin, jika dia yang menatap mataku, aku bisa membaca tatapannya, dan menemukan diriku disela tulisan pandangannya. Mungkin tidak seluruh cerita dari tatapannya dikuasai olehku, namun paling tidak, aku ada.

Mungkin, jika dia yang memandang wajahku, aku bisa lebih leluasa pula memandang wajahnya. Mungkin dengan begitu, bukan ketenangan yang kudapat, namun kehangatan. Kurasa itu cukup.

Mungkin, dia kah orangnya?


- Larut dalam Subuh -
rainbow, itb

Cinta, Prinsip, dan Memiliki

Percakapan beberapa menit di telefon mengkomprehensifkan sebuah kajian, didapatlah sebuah kesimpulan yang merupakan pertanyaan: apakah cinta harus memiliki?

Cinta...

Banyak yang mempertanyakan, 'Apa itu cinta?' Namun bagiku definisi itu pribadi masing-masing. Bagiku, cinta itu perlambang keegoisan seorang individu terhadap obyek yang dicintainya.

Bagaimana tidak? Ketika mencintai, begitu besar kecenderungan untuk menjadikan obyek kita sebagai yang memiliki nilai tertinggi. Entah dengan memujanya, melindunginya (protektif), atau ingin memilikinya (posesif) yang terkadang salah kaprah menjadi berlebihan (over protektif maupun over posesif).

Pendefinisian tadilah yang mungkin memicu pertanyaan, 'Apakah cinta harus memiliki?'

Memiliki. Rasa posesif. Apakah karena cinta?

Entahlah, aku tidak sedang ingin memikir reverse dari pertanyaan itu sendiri. Namun pengalamanku yang begitu kecil akan cinta hanya bisa kusampaikan seperti berikut.

Suatu ketika aku mencintai seseorang. Tentunya melalui suatu proses, sehingga aku sungguh meyakini akan perasaanku. Perasaan. Ya, aku perempuan. Apa daya aku kurang memercayai perasaanku bila bersangkutan dengan cinta. Cinta yang dijewantahkan sebagai perasaan sangat kuat dan dalam terhadap lawan jenis.

Cintaku berlabuh pada pihak yang berlawanan dengan prinsipku. Prinsip yang sudah mendarah daging dan merasuk tulang tak mungkin kulepas. Namun aku tetap mencintainya. Kucintai sepenuh hati dan segenap jiwa. Aku mencintainya. Sangat mencintainya hingga teman-teman sekitar yang mengenalku menganggapku sudah gila. Haha. Ya, aku gila karena cinta. Cinta membuat manusia menjadi gila, bukan?

Semakin waktu berjalan, kegilaan cinta yang kurasakan perlahan mewaraskanku. Terlalu dalam sudah cinta ini hingga aku waras akannya. Dan akal sehatku pun bermain. Memainkan prinsip dan gejolak cinta. Diadu antara keduanya. Keduanya menang. Aku masih memegang prinsip, namun aku pun mencintainya.

Kurasa aku sudah tak sanggup membendung perasaan cintaku. Memang, lewat kondisi, aku bisa memberikan perilaku cintaku padanya. Namun prinsipnya dan prinsipku sama kuat, kami berdua sama sadar, dan kami berdua memutuskan.

Keputusan kami tampaknya berjalan pada pertanyaan yang sudah diajukan pada awal penulisan ini. Hm. Derita terhadap 'tidak memiliki' tetap ada. Tetap terasa. Itu yang kurasa. Walaupun ada satu dua kejadian yang membuat hubungan kami lebih dingin dari biasanya, tapi kami sadar, kejadian-kejadian itu membuat segalanya lebih baik.

Bila sekarang aku ditanya, 'masihkah kau mencintai pria itu?' Aku hanya bisa mengatakan kata yang menjadi tren saat ini, 'Aku sudah move on, kok.' Kemudian aku memikirkan kembali kalimat itu. Aku tidak move on, karena aku hanya move saja, dan tidak on kepada siapapun. Perasaan itu masih jelas tersimpan dalam benakku. Nostalgia bersamanya masih bisa kubangun kembali jika kuingini. Namun untuk apa? Perbedaan prinsip menjadikan kami berkepala waras, tidak menggilai cinta, namun mewarasinya.

Cinta itu memiliki. Itu yang kurasa. Itu yang kulewati. Lalu muncul pertanyaan, 'Apa itu memiliki?' Hm. Baik kurasa maupun kupikir, memiliki itu adalah apa yang ada dibenakku itu tadi. Aku memiliki perasaan cinta itu, buktinya aku move, perpindahan, bukan? Hanya saja aku tidak meletakkan perasaan itu atas siapapun, karena bagiku, cukup kusimpan dalam benak saja.

Kini ketika aku diberikan pertanyaan, 'Apakah cinta harus memiliki?' Aku akan tersenyum dan bertanya, 'Menurutmu?' :)

-tulisan ini terinsiprasi dari kajian 'Cinta' maestro cinta, Pengamen Tiben, dan teman-teman panti jomblo: Om Payung, Nona Rapuh, dan Uda Sampah-